Kamis, 21 Juni 2012

Inti Ajaran Makrifat


Inti_ajaran_makrifat_wejangan_delapan_wali_tanah_jawa
 Inti Ajaran Makrifat

Dalam Wirid Hidayat Jati, makrifat yang di diajarkan adalah wejangan yang berasal dari delapan wali dari tanah Jawa, yang sudah dikumpulkan menjadi satu. Isinya bersumber dari intisari firman Allah SWT yang dijelaskan dalan hadis Nabi Muhammad SAW kepada Sayyidina Ali r.a melalui telinga kirinya.
Dzat dan Rumah Tuhan
Ajaran pertama tentang Dzat dan singgasana Tuhan. Ajaran tersebut terbagi menjadi delapan bagian, yaitu sebagai berikut :

1. Adanya Dzat
Sesungguhnya tidak ada apa-apa, karena pada waktu masih keadaan kosong, belum ada sesuatupun. Yang ada hanyalah Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku. Akulah hakikat Dzat yang Maha Suci, yang meliputi sifat-Ku, yang menyertai Nama-Ku, dan yang menandai perbuatan-perbuatan-Ku.

2. Kejadian Dzat
Sesungguhnya, Aku adalah Dzat yang Maha Kuasa, yang berkuasa menciptakan segala sesuatu. Terjadi dalam seketika, sempurna dari Kodrat-Ku. Pertama kali yang Aku ciptakan adalah sebuah pohon bernama Sajaratul Yakin (pohon kehidupan). Pohon itu tumbuh dialam Adam Makdum (kosong hampa) yang azali dan abadi. Setelah itu Aku ciptakan Cahaya Bernama Nur Muhammad (cahaya yang terpuji), kemudian cermin bernama Mir’atul Haya’i (kaca wira’i), nyawa yang disebut Roh Idhafi (nyawa yang jernih), pelita yang bernama Kandil (lampu tanpa api), pemata yang bernama Dzarrah (permata), dan Jalal (keperkasaan) yang disebut Hijab (dinding jalal atau penutup), yang menjadi sekat bagi penampakan-Ku.

3. Uraian Tentang Dzat
Sebenarnya manusia itu adalah Rahsa-Ku dan Aku ini adalah rahsa manusia karena Aku menciptakan Adam dari empat unsur yaitu : tanah, air, api, dan udara. Keempat unsur itu adalah perwujudan dan Sifat-Ku. Kemudian Aku masukkan kedalam tubuh Adam lima macam mudzarrah, yaitu : nur, rahsa, ruh, nafsu, dan budi yang merupakan diding yang menghalangi Wajah-Ku yang Maha Suci.

4. Susunan dalam Singgasana Baitul Makmur
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana dalam Baitul Makmur, yaitu rumah tempat kesukaan-Ku. Tempat itu berada dalam kepala Adam. Dalam kepala itu ada otak, dalam otak itu ada manik, dalam manik ada budi, dalam budi ada nafsu, dalam nafsu ada sukma, dalam sukma ada rahsa, dalam rahsa ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang melipti semua keadaan.

5. Susunan dalam Singgasana Baitul Muharram
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana berada dalam Baitul Muharram, yaitu rumah tempat pengingat-Ku. Tempat itu ada di dalam dada Adam, di dalam dada itu ada hati, di dalam hati itu ada jantung, di dalam jantung itu ada budi, di dalam budi itu ada jinem (angan-angan), di dalam jinem itu ada sukma, di dalam sukma itu ada rahsa, di dalam rahsa itu ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan.

6. Susunan dalam Singgasana Baitul Muqaddas
Sesungguhnya Aku mengatur singgasana di dalam Baitul Muqaddas. Itu adalah rumah, tempat yang Aku sucikan. Berada dalam kontholnya adam, dalam konthol itu ada prinsilan (buah pelir), di antara prinsilan itu ada nathfah yaitu mani, dalam mani itu ada madzi, dalam madzi itu ada wadi, dalam wadi ada manikem, dalam manikem itu ada rahsa, dalam rahsa ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku, Dzat yang meliputi semua keadaan, bertahta dalam nukat gaib, turun menjadi Jauhar Awal. Disitulah alam Ahadiyat berada (alam Wahdat dan alam Wahidiyat), alam Arwah, alam Misal, alam Ajsam, dan alam Insan Kamil, menjadi manusia sempurna yaitu sifat-Ku yang sejati.

7. Peneguh Iman
Yaitu yang menjadi kekuatan iman:
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Aku dan menyaksikan Diri-Ku bahwa Muhammad itu adalah utusan-Ku.

8. Kesaksian
Aku bersaksi dalam Diri-Ku sendiri bahwa tidak ada Tuhan selain Diri-Ku dan menyaksikan Diri-Ku bahwa Muhammad itu adalah utusan-Ku. Bahwa sesungguhnya yang dinamakan Allah itu adalah Badan-Ku, Rasul itu adalah Rahsa-Ku, Muhammad itu adalah Cahaya-Ku. Akulah yang selalu ingat dan tidak pernah lupa, Akulah yang kekal tidak bisa diubah oleh keadaan. Akulah yang selalu tahu, tidak ada suatu apapun yang tersembunyi dari-Ku. Akulah yang menguasai segalanya, yang Maha Kuasa dan Bijaksana, tidak memiliki kekurangan dalam pengetahuan. Byar! Sempurna, terang-benderang, tidak terasa apa-apa, tidak kelihatan apa-apa, hanya Diri-Ku yang meliputi semua alam dengan Kodrat-Ku.

Hakikat Hidup

Menurut ajaran wali songo, ajaran ini berisi tentang hakikat hidup agar menjadi bijaksana terhadap sangkan paran dan agar mencapai kemuliaan dalam keadaan jati, yang bersumber dari firman Allah Ta’ala. Pada zaman dahulu, ajaran ini dirahasiakan oleh para wali. Namun sekarang telah dibuka, dijelaskan dengan terang-terangan agar orang-orang dapat mengetahui asal kejadian sampai pada kesempurnaan ajal. Adapun uraiannya sebagai berikut :
Pertama tentang asal kejadian. Sebagaimana firman Allah Ta’ala yang penjelasannya sebagai berikut : Roh rohani bercampur dengan roh jasmani, bertambah dari Kodrat Allah Ta’ala. Kemudian ia menetes di bumi yang suci ( rahim)
Sesudah berusia sekitar satu bulan, ia sudah mendapat tambahan kontha dari Nur Muhammad. Karenanya, ketika berada dalam bumi suci ia sudah dapat bergerak. Sesudah berusia sekitar dua bulan, ia sudah dapat warna dari Nabi Muhammad. Karenanya, ketika dalam kandungan ia sudah dapat berdenyut seperti layaknya manusia.
Sesudah berusia sekitar tiga bulan, berdasarkan firman Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad, ia dalam kandungan ia sudah dapat bergerak. Peribahasannya adalah , idham-idham kawaran dari Kodrat Allah Ta’ala.
Sesudah empat bulan, berdasarkan firman Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad, ia akan mendapat tambahan otak. Oleh karena itu, ia dalam kandungan ia sudah dapat memiliki keinginan.
Sesudah berusia lima bulan, berdasarkan firman Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad, ia akan mendapat tambahan otot. Oleh karena itu ia dalam kandungan ia sudah dapat bergerak perlahan-lahan.
Sesudah berusia sekitar enam bulan, berdasarkan firman Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad, ia akan mendapat tambahan tulang. Oleh karena itu ia sudah dapat naik-turun dan jungkir balik.
Sesudah berusia tujuh bulan, berdasarkan firman Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad, ia akan mendapat rupa. Ia juga mendapat tambahan dari Kodrat Allah Ta’ala seperti rambut, darah, dan daging.
Sesudah berusia sekitar delapan bulan, berdasarkan firman Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad, calon anak ini sudah dapat mengoprasikan saudara yang empat dan lima pusar. Saudara yang empat tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama : kakawah (air ketuban)Kedua : bungkusKetiga : ari-ariKeempat : darah

Penjelasannya : Kekawah artinnya menjadi pengasih. Bungkus menjadi kekuatan. Darah artinya waliyas mati, maka hendaklah diketahui bahwa Kekawah itu adalah Malaikat Jibril, Bungkus adalah Malaikat Mikail. Ari-ari adalah Malaikat Israfil, dan darah adalah Malaikat Izrail.
Jibril berada pada kulit. Mikail berda pada tulang. Israfil berada pada otot. Izrail berada pada daging. Akhirnya selamatlah sentosa, semua itu tidak kelihatan karena Kodrat Allah.
Setelah berusia sekitar sembilan bulan, ia akan berwujud bayi. Berdasarkan firman Allah Ta’ala kepada Nabi Muhammad, ada empat hal yang di anugrahkan Allah Ta’ala dengan Kodrat-Nya sebagaimana tersebut dibawah ini
Pertama : budiKedua : rahsaKetiga : angan-anganKeempat : hidup

Kemudian Nabi Muhammad menambahkan ambuh atau kemantapan kepadanya dengan disertai dengan bacaan syahadat jati. Artinya shyahadat jati adalah makrifat kepada Dzat Allah. Diharapkan kelak ia akan teguh hati terhadap Dzat yang tidak akan mati.
Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad SAW, 
Aku berkenan mengatur istana yang berada di dalam dada manusia. Didalam dada itu ada hati, di antara hati itu ada jantung, dijantung itu ada budi, di dalam budi ada jinem, di dalam jnem itu ada sukma, di dalam sukma itu ada rahsa, di dalam rahsa itu ada Aku. Tidak ada Tuhan selain Aku.
Setelah itu menjadi bayi, akhirnya dibukalah Kodrat Allah Ta’ala, ia lahir dari kandungan dan menangis. Keadaan bayi saat itu dapat disebut hidup, dalam zaman yang Maha Mulia.
Apabila bayi tersebut lahir dari kandungan setelah sepuluh atau sebelas bulan, maka berari kekeliruan perhitungan, karena tidak memperhatikan pengeluaran rahsa. Allah Ta’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar menyertai Hijab Dzat elok padanya untuk menentukan waktu kelahiran dari kandungan ibunya selama sembilan bulan. Disitu, disertakan pula kotoran tahi tahun, tahi kalong, cacing kalung, cacing tembaga, yang semua itu akhirnya akan mendatangkan nafsu lawwarnah.

Jasad dan Roh

Manusia bukanlah sekedar apa yang nampak secara kasat mata,terdiri atas berbalut daging dan kulit,yang membutuhkan makanan dan minuman. Hakikat manusia terletak pada sesuatu yang amat berharga di dalam tubuh kasarnya, yaitu roh. Artinya,bahwa exsistensi manusia memiliki jasad sebagai bentuknya, dan memiliki roh atau jiwa sebagai makna keberadaannya. Roh merupakan hakikat manusia yang berasal dari alam arwah, sedangkan jasad berasal dari unsur-unsur materi. Jadi, jelas bahwa kejadian manusia itu terdiri dari bentuk luar yang tersebut sebagai jasad, dan wujud dalam yang disebut sebagai jiwa atau roh. Dengan demikian kejadian manusia itu terdiri dari dua unsur yang sangat berbeda,yaitu unsur rohani dan unsur jasmani. Unsur rohani atau roh (jiwa) adalah sejenis wujud immateriil yang berasal dari nur Allah, yakni makhluk suci yang memiliki potensi dan kecenderungan asli untuk mengenal Tuhan dan menyembah-Nya, dan ia merupakan sumber akhlak yg mulia serta senantiasa menarik jiwa dan jasad menuju keluhuran. Dan karena roh itu berasal dari Allah, maka selamanya ia akan merindukan-Nya. Sedangkan unsur jasmani atau jasad adalah wujud materiil yang memiliki sifat-sifat tabiat kebendaan yang merupakan sumber dari hawa nafsu keduniaan yang berlawanan arah dengan tabiat roh.

Roh berasal dari alam arwah,yang diturunkan kedalam jasad manusia,yang memiliki kemampuan untuk mengetahui, berkehendak dan berkuasa atas tubuh yang didiaminya. Ketika roh ditiupkan ke dalam badan, badan pun menjadi hidup. Dan ketika menigglkan badan, badan pun menjadi mati. Jadi keberadaan badan manusia itu bergantung pada roh dan bukan sebaliknya. Roh sama sekali tidak mengenal mati,sedikit pun ia tidak terpengaruh oleh kematian kecuali sekedar kehilangan wadah kasarnya.

Sewaktu anak Adam tidur roh meninggalkan badan untuk sementara. Tapi ketika roh dicabut kerena beberapa penyebab fisik seperti tidak berfungsinya organ tubuh yang vital, atau penyebab lain dari luar, maka matilah ia. Saat itu roh meninggalkan badan dan pergi ke dunia spiritual yaitu alam arwah, sebagaimana diterangkan dalam Al Quran “ Allah yang mengambil roh manusia pada saat kematian mereka,dan yang belum mati dalam tidurnya. Allah menahan roh orang yang telah ditetapkan ajal kematiannya, dan melepaskan yang lain (ke badannya) sampai waktu yang ditentukan.” (QS. Az Zumar:42)

Ayat ini menerangkan bahwa roh itu hidup, dapat berpindah-pindah, dan menembus ke segenap bagian tubuh manusia. Lebih lanjut diterangkan, bahwa roh diperintah oleh Allah meninggalkan badan untuk semetara, yaitu selama orang itu tidur. Kemudian diperintahkan-Nya memasuki badan kembali begitu terjaga dari tidurnya. Rasulullah Saw. bersabda : “Sesungguhnya rohmu dikeluarkan dan kemudian dikembalikan kepadamu, sampai suatu waktu yang diinginkan oleh Allah.”

Dengan sebab bahwa hidup manusia adalah karena kehadiran roh pada jasadnya, maka ketika datang saat yang sudah ditetapkan roh itu keluar, tubuh pun menjadi mati. Setelah kematian, tubuh manusia segera rusak, tapi roh tetep hidup,kekal, dan abadi. Dalam hal ini Ibnu Qayyim mengatakan, bahwa setelah roh dicabut saat menemui ajalnya ia kembali ke badan dalam kubur untuk ditanyai oleh malaikat Munkar dan Nakir. Seterusnya roh menetap dalam barzakh untuk mengecap kebahagiaan atau merasakan hukuman siksa sampai hari kebangkitan. Dengan begitu rohlah yang akan mengantar manusia untuk melihat keindahan dan kelapangan alam surgawi. Demikianlah pula sebaliknya, rohlah yang akan mengantar manusia untuk menerima azab neraka. Selanjutnya roh yang suci akan kembali kepada Allah di surga, sedangkan yang kotor akan menjalani proses penyucian di neraka. Untuk itu segala kegiatan manusia di dunia hendaknya dijadikan ibadah, karena hanya melalui peribadatan itu roh dapat menyucikan dirinya setelah melakukan dosa-dosa selama hidup menyatu dengan jasadnya.

Memang, di dalam Al Quran dinyatakan bahwa roh itu merupakan urusan Allah,dan manusia tidak diberi pengetahuan tentang roh kecuali hanya sedikit. Ia hanyalah sebagian kecil dari rahasia Allah yang telah ditetapkan Allah ke dalam manusia dari alam surgawi QS. Sad:72)

Namun meski sedikit, hal itu tidak menghalangi manusia untuk terus melakukan pemikiran dan perenungan tentang eksistensi roh, dan itu pun tidak luput dari timbulnya macam-macam perbedaan pendapat diantara ulaa telah mereka mengadakan kajian tentang hakikat roh. Sebab, disamping adanya pengertian roh dari sudut fisik sebagai daya hidup jasmani, tetapi secara substansial istilah roh juga mengandung pengertian sebagai wujud spiritaual. Itulah sebabnya, didalam tasawwuf pun tidak sedikit tokoh-tokoh sufi yang begitu serius membicarakan masalah roh, termasuk di kalangan sufi indonesia seperti Syaikh Abdus Samad Al Palimbani.

Menurud Abdus Samad Al Palimbani roh manusia adalah makhluk suci yang merupakan percikan Nur Alah yang Azali. Ia telah memiliki wujud sebelum tubuhnya diciptakan, dan telah mengenal Tuhan secara langsung sebelum ia dilahirkan ke dunia. Ketika itu manusia masih dalam bentuk nur yang berkeliaran di seputar alam kesucian yang luhur, sebelum kemudian ditentukan ke dalam kegelapan rahim dan menyatu dengan jasad janin.

Al Quran menjelaskan bahwa sebelum roh diturunkan ke alam jasad Allah telah berfirman, “ Bukanlah Aku ini Tuhan kalian?” Roh-roh itu pun menjawab, “Benar, Engkau adalah Tuhan kami.” (Q Al ‘araf:172)

Ayat ini jelas mengartikan, bahwa sebelum roh diturunkan di alam jasad, mereka telah mengenal tentang sesuatu, yaitu Tuhan Yang Maha Pencipta. Namun demikian, ketika roh ditiupkan ke alam jasad manusia, roh-roh itu lupa akan pertemuan-Nya yang pernah mereka alami. Ini terjadi karena roh semakin terpengaruh oleh nafsu yang ada pada jasad materialnya. Maka, hanya dengan intensitas kegiatan ibadat, kiranya roh akan mengingat kembali pengetahuan dan pengalaman yang pernah dialaminya di sisi Tuhannya, yakni zaman azali.

Tentang asal-usul keberadaan roh sebelum ia dipertautkan dengan jasad kasarnya ini, para tokoh sufi pada umumnya mengintesprestasikan ayat Al Quran (QS. At Tin:4-5)

Mereka dengan merujuk pada dua ayat ini berpendapat bahwa semua sebelum di alam rahim sang ibu ia menjalani fase nurani di zaman azali. Pada masa itu, menurut mereka manusia berada dalam wujud yang seindah-indahnya dan sebaik-baiknya dalam wujud roh, yang satu sama lain sudah saling mengenal. Ia hidup di alam kegaiban yang hanya bisa dilihat oleh para wali abdal, kekasih-kekasih Allah. Dari sanalah kemudian ia diturunkan ketempat yang serendah-rendahnya, yaitu dimasukkan ke dalam tanah liat dan air mani yang hina. Jadi, manusia telah mengalami alam azali nurani sebelum dirinya dijadikan dalam bentuk darah dan daging di dalam rahim. Setelah itu, ia diturunkan ke dunia, dan hijab gaib pun segera melekat padanya, yaitu berupa keinginan-keinginan dan kecenderungan nafsu keduniaan. Akibatnya, sibuklah ia dengan kebutuhan-kebutuhan materinya, hingga ia lupa akan sejarahnya, disebabkan terpenjara oleh dunia dan nafsu-nafsu rendah, hingga derajatnya pun merosot serendah-rendahnya, yakni menjadi jasad kasar di alam dunia yang rendah.

Sesudah jatuh dari keadaan sebaik-baiknya keadian mejadi keadaan paling rendah, manusia tidak bisa menikmati kembali keadaan di zaman azali yang dilingkungi oleh keindahan surga. Apalagi jika manusia lupa akan kedudukannya lalu menyeret diri dan menyerahkan kepada naluri hewaniahnya, maka ia akan merosot ke lembah kehinaan. Begitulah manusia yang awalnya merupakan ciptaan Allah yang paling mulia, ternyata lebih banyak merendahkan derajanya sendiri dibawah makhluk-makhluk lain yang lebih rendah, seperti binatang, pohon-pohon, bebatuan, dan lain-lainya. Perendahan derajat manusia ini timbul lebih banyak diakibatkan oleh pengumbaran nafsunya yang tak terkendali, terutama nafsu kecintaan pada harta, kedudukan,dan kehormatan. Akibatnya, manusia yang kodrat sebenarnya adalah supaya mengendalikan materi kebendaan dan mengatasi hawa nafsunya, tetapi pada kenyataanya malah terbalik, yakni manusia yang kini justru diperbudak oleh benda-benda dan bujukan nafsunya sendiri. Dan orang-orang yang tertipu itu bukanlah kaum awam saja, tapi dapat ditemukan hampir di setiap lapisan masyarakat. Mereka dapat dijumpai dikalangan cerdik pandai, bahkan di kalangan pemuka agama dan tokoh-tokoh masyarakat, apalagi di kalangan kaum awam dan rakyat jelata.

Kerinduan roh akan kehidupan asal di zaman azali, menurut konsep sufisme,segera bila terobati begitu roh meninggalkan kehidupan dunia ini menuju alam barzakh. Di alam akhirat nanti jiwa-jiwa yang bersih akan saling bertemu untuk menumpahkan kerinduannya, karena mereka saling kenal dahulu sebelum ditiupkan ke badan manusia. Ada pun roh-roh yang kotor dan buruk ia tidak akan merasa rindu kepada siapa pun, dan ia di hari akhirat itu keadaannya sangat payah penuh penderitaan dan kesengsaraan, dan akan bertambah payah lagi ketika bergabung dengan jiwa kotor lainnya.

Dan kerinduan itu akan terobati kala di surga kelak : “ Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan:”Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. “

Martabat Tujuh

Pertama kali dikemukakan oleh Ibn. Fadhilah mengenai Martabat tujuh, dia adalah seorang sufi dari India. Ajaran ini dipengaruhi oleh Ibn ‘Arabi yang diadopsi oleh para sufi di tanah Jawa. Salah satunya adalah Raden Ngabehi Ranggawarsito. Menurut ajaran Martabat Tujuh, Tuhan menampakkan Diri dalam tujuh tingkatan atau Martabat :
  1. Martabat Ahadiyat
  2. Martabat Wahdat
  3. Martabat Wahidiyat
  4. Alam Arwah
  5. Alam Misal
  6. Alam Ajsam
  7. Alam Insan Kamil


1. Martabat Ahadiyat.

Ini adalah Martabat Tertinggi Ketuhanan. Tuhan digambarkan sebagai Dzat yang tidak bisa disebut dengan apa pun. Inilah Tuhan Sejati bagi manusia, tidak pandang bangsa dan agama. Dalam Islam sering disebut dengan keadaan Kunhi Dzat atau Dzat semata. Para sufi Jawa yang banyak dipengaruh oleh filsafat Hindu menyebutkan dengan istilah Aku. Pada keadaan ini, tidak ada sesuatu selain Dzat Tuhan. Kosong hampa. Sunyi-senyap. Tidak ada sifat, nama, atau perbuatan. Maka Ibn ‘Arabi pernah melontarkan gagasan kesatuan semua agama. Hal ini bisa diterima jika dipandang dalam keadaan ini, yakni keadaan Aku semata.

2. Martabat Wahdat.

Dalam Martabat Ahadiyat, Tuhan adalah Dzat Suci yang berdiri sendiri. Tak ada yang lain selain Diri-Nya. Dia rindu untuk dikenal, namun siapa yang akan mengenal-Nya karena tidak ada yang lain selain Diri-Nya. Tuhan berkehendak menciptakan makhluk agar Diri-Nya dikenal oleh makhluk tersebut. Inilah proses awal penciptaan. Tuhan hendak menciptakan makhluk. Untuk menciptakan sesuatu pastilah menggunakan bahan. Bahan tersebut diambil dari-Nya sendiri. Logis, karena tidak ada bahan lain selain Diri-Nya. Tidak tersisa ruang sedikit pun untuk selain Diri-Nya,maka otamatis Tuhan mengambil bahan dari Diri-Nya sendiri. Sebenarnya pencipaan ini lebih bersifat maknawi, Dia tidak pernah membuat sesuatu yang baru, namun hanya menampakkan Diri dengan penampakan lain atau tajalli.Tuhan menurunkan kualitas Diri-Nya, dari Dzat Mutlak yang teramat Suci menjadi dua sebagaimana dibayangkan akal. Tidak seperti itu sama sekali. Penurunan ini hanya sekedar ungkapan yang bermakna simbolis. Sama halnya dengan air laut yang menampakan diri dengan penampakan lain berupa gelombang.Sebenarnya tidak ada bedanya antara air laut dan gelombang, keduannya adalah satu juga.
Inilah martabat Tuhan yang kedua yakni Martabat Wahdat. Dia sudah melakukan proses pencipaan pertama. Ciptaan pertama-Nya ini berupa Nur Muhammad atau Cahaya Muhammad. Ranggawarsita menyebutnya sebagai Syajaratul Yakin atau Pohon Keyakinan. Ibnu ‘Arabi menjabarkannya sebagai Asyajaratul Kaun atau Pohon Kejadian. Cahaya ini memiliki nama agar mudah dikenali. Orang-orang Islam menyebut-Nya dengan sebutan Allah. Di berfirman : “Allah adalah Cahaya bagi langit dan bumi.” Nur Muhammad bukan Tuhan tapi juga bukan makhluk. Ia ada di tengah-tengah antara keduannya. Namun dalam Martabat Wahidiyat ini, Nur MUhammad lebih bersifat ketuhanan. Allah yang di sembah orang-orang hakikatnya adalah Tuhan yang sudah menurunkan Diri, bukan Tuhan Sejati. Tuhan Sejati itu adalah Dzat Mutlak atau Aku.

3. Martabat Wahidiyat.

Penampakan atau tajalli Tuhan berikut ini adalah Martabat Wahidiyat. Pada martabat ini, Nur Muhammad yang bernama Allah dan bersifat ketuhanan menurunkan Diri menjadi Nur Muhammad yang bersifat kemakhlukan. Maka cahaya ini tidak lagi sebagai Tuhan, namun sebagai makhluk yang masih berupa satukesatuan cahaya. Disinilah terjadi proses pencitaan sebagaimana digambarkan oleh Ibn ‘Arabi dalam pohon kejadian yang tidak pernah putus mengalir. Benih tersebut berasal dari Cahaya Satu, dan Cahaya yang satu tersebut berasal dari Dzat-Nya.
Jadi, jelaslah, benih-benih kejadian berasal dari Cahaya Tuhan. Setiap penciptaan berasal dari-Nya. Setiap gerakan, tindakan, perkataan, pemikiran, angan-angan, semuannya bermula dari benih tersebut. Tidak ada satu gerakan pun dari makhluk yang lepas dari benih tersebut,sehigga Ranggawarsita menganggap semua makhluk sebagai anak-anak Tuhan karena berasal dari benih-Nya.
Dalam martabat ini pula Tuhan melahirkan Kehendak-Nya. Kehendak atau Iradat tersebut Dia salurkan dalam setiap benih kejadian. Tumbuhlah benih tersebut menjadi akar yang menjalar ke bawah. Akar atau Kehendak Tuhan inilah yang menjadi pondasi setiap ciptaan, maka segala sesuatu memiliki akar kejadian yakni berada di bawah kendari Tuhan dan terjadi atas kehendak-Nya.
Kehendak Tuhan merupakan ketetapan yang pasti atau takdir. Tuhan menyimpan taikdir tersebut di suatu tempat yang tersembunyi hingga tak satu pun yang mengetahuinya, kecuali orang-orang tertentu yang Dia beri kekuasaan untuk mengetahuinnya. Tuhan pun berfirman: “ Sesungguhnya Allah memiliki takdir (ketetapan) terhada segala sesuatu.” Dengan takdir inilah benih tersebut tumbuh keatas menjadi batang. Batang tersebut mampu tumbuh keatas karena memiliki kemampuan atau kudrat yang berasal dari Kudrat-Nya. Semakin tinggi batang itu naik hingga bercabang menjadi dua. Inilah sifat makhluk sejati, yakni bercabang menjadi dua yang saling berpasangan. Tuhan membuat keadaan makhluk menjadi berpasangan sebagai tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya. Dia memerintahkan agar manusia mengenal dua sifat yang saling berlawanan ini, “Dan Aku menciptakan laki-laki dan perempuan agar mereka saling mengenal satu sama lain.” Ini menjadi petunjuk bagi manusia untuk tidak dalam penampakan kemakhlukan yang memiliki dua pasangan. Manusia yang masih mengagungkan salah satu sifat pasangan dan mengesampingkan sifat lainnya akan tersesat. Padahal dua-duanya berasal dari-Nya. Inilah martabat yang bersifat kemakhlukan namun masih menjadi satu dan belum terpisah-pisahkan. Semua kejadian makhluk masih berbentuk konsep yang tersimpan rapi dan terjadi di sisi-Nya.

4. Alam Arwah.

Konsep atau skenario Tuhan tidak akan berwujud nyata jika tidak dimasukkan kedalam suatu wadah. Proses penampakan atau tajalli Tuhan berikutnya adalah menciptakan wahana bagi kehendak-kehendak-Nya tersebut. Dalam martabat ini, Tuhan menciptakan makhluk yang sangat halus yakni ruh. Ruh adalah sarana sebagai sumber kehidupan. Ruh itu berasal dari Diri Tuhan. Mula-mula, Ruh tersebut masih satu dan akhirnya terbagi-bagi menjadi banyak sekali. Bagian-bagian ruh tersebut siap untuk mengisi tiap-tiap bentuk yang akan diciptakan-Nya kemudian.

5. Alam Misal.

Keberadaan ruh sebagai sarana sumber kehidupan tidak akan berguna jika tidak ada suatu yang dia masuki. Tuhan menciptakan beberapa bentuk ciptaan melalui proses penurunan Diri. Dia mengambil Nur Muhammad sebagai bahan-Nya. Maka inilah makhluk sejati, bukan Tuhan, karena berasal dari Nur Muhammad yang bersifat kemakhlukan dan tidak berasal langsung dari Dzat Tuhan. Ciptaan dalam Alam Misal ini berupa makhluk-makhluk halus atau gaib namun nyata bentuknya seperti malaikat, jin, setan, jiwa, iblis, surga, neraka, dan sebagainya. Ruh-ruh datang dan memasuki setiap bentuk gaib tersebut hingga hiduplah mereka.

6. Alam Ajsam.

Bentuk-bentuk gaib pada Alam Misal di atas masih di rasa kurang sempurna. Maka Tuhan menurunkan Diri dalam penampakan terluar berupa benda-benda jasmani. Maka terlihatlah beragam materi dengan segala pernak-pernik didalamnya. Ini adalah hijap atau diding penghalang yang paling besar untuk melihat Tuhan karena dalam setiap materi tersebut dibungkus dengan syahwat. Kebanyakan manusia akan tertipu dan sulit untuk kembali ke asal-usul dirinya apabila terlena oleh penampakan fisik ini.

7. Alam Insan Kamil.

Pada akhirnya, Tuhan menurunkan Diri menjadi manusia sempurna sebagai gambaran Diri-Nya yang sempurna. Melalui manusia sempurna inilah Dia menikmati hasil ciptaan-Nya. Maka manusia dibekali akal dan hati sebagai sarana kehadiran Tuhan. Kelebihan utama manusia dibanding dengan makhluk lainnya adalah kemampuan untuk menampung kehadiran Tuhan hingga menjadi wakil (khalifah) bagi-Nya. Melalui manusia sempurna inilah harapan-Nya untuk mengenal dan dikenal akan terlaksana.

AKAL MANUSIA ADALAH SINGGASANA KEMAKMURAN-NYA
HATI MANUSIA ADALAH SINGGASANA KEMULIAAN-NYA DAN
KEMALUAN MANUSIA ADALAH SINGGASANA KESUCIAN-NYA.

Ketiga bagian tubuh manusia ini menjadi sarana vital kehidupan, sebagai tempat hadir Tuhan untuk menikmati keelokan hasil karya-Nya.

Hati (Qalb)

Dalam konteks sufisme, yang dimaksud qalbu atau hati bukanlah pengertian secara fisik yaitu segumpal daging yang berada dekat pusat atau liver, yang berfungsi untuk mengedarkan darah. Bukan pula suatu yang beredar dalam dada seseorang. Ia bukanlah hati yang merupakan organ intusi supra rasional yang berhubungan dengan lathifah rabbaniyyah, yaitu sesuatu yang halus di dalam sosok manusia yang hakikatnya hanya diketahui oleh Allah. Jadi, apa yang berdebar di dalam dada seseorang yang acapkali didekap-dekap sambil dibisiki: “Hatiku, hatiku, hatiku,” menusut terminologi sufi ia bukanlah merupakan hati sebenarnya.

Dikatakan oleh Imam Ghazali bahwa hati (Qalb) mempunyai dua makna. Makna pertama ialah hati sebagai bagian dari anggota tubuh manusia, serupa daging yang disebut jantung, terletak di dalam rongga dada. Makna kedua ialah sebagai lathifah rabbaniyyah yang merupakan daya kemampuan manusia yang diberikan Allah Swt. untuk mengetahui, memahami dan menguasai seluk beluk sesuatu.

Itulah sebabnya sering dinyatakan, bahwa di dalam tubuh manusia yang kecil ada sebuah alam yang luasnya melebihi alam jagad raya ini, yaitu hakikatnya hati seorang al’arif billah. Diriwatkan dalan hadis qudsi, Allah Azza wal Jalla berfirman : “Bumi dan langit tidak akan mampu menampung-Ku, dan hanya hati orang-orang yang beriman sajalah tempat-Ku bersemayam.”

Maka ketika Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang di mana Allah berada, apakah di bumi atau di langit. Jawab beliau, “Dia berada di hati hamba-hamba-Nya yang berimam.”

Tentu, keluasan makna ini merujuk kepada keadaan hati yang suci yang dimiliki oleh golongan ‘arifin. Di mana hati yang suci itu bisa digambarkan laksana sebuah negeri yang makmur dan subur, dihiasi taman yang penuh berkah, mata airnya tak pernah keing, kenikmatannya tak pernah habis, dan pohonnya terus berbuah tak mengenal batas musim. Dengan begitu, orang yang selalu memperhatikan kesucian hatinya, menjaga dan memdidiknya dengan baik, maka rohnya akan tetap muda, perasaannya lembut, dan penampilan pun akan ceria dan bergairah. Namun, hati baru akan bisa tenang dan istiqomah manakala ia terus disirami dengan percikan-percikan iman melalui amal ibadah yang mudawamah (tidak berkeputusan). Dan juga hati itu akan lebih hidup manakala ia selalu berada dalam dzikrullah dan mulazamah di dalam melakukan mujahadtrun nafsi, serta tekun melakukan tazkiyah,yakni membersihkan hati dari segala kotoran dan penyakit hati. Disamping itu, akan merasa sedih dan kecewa bila tidak mampu melaksanakan hal-hal yang baik dan terpuji, dan juga akan menyesal manakala melakukan hal-hal yang salah dan tercela.

Hakikat hati nurani manusian adalah berasal dari nur Ilahiyah, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya, “Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya (nur)-Nya siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS. An Nur:35)

Pendek kata, sejahat apapun manusia yang selalu menuruti hawa nafsunya, namun dalam hati nuraninya akan tetap jujur untuk menyadari kesalahan dirinya.

ZikirPeringkat Ahli Zikir

Menurut Imam Ghazali ada dua tingkatan zikrullah. Pertama adalah tingkatan para wali yang pikiran-pikiran seluruhnya terserap dalam perenungan akan keagungan Allah, dan sama sekali tidak menyisakan lagi di relung hati mereka untuk hal-hal lain. Terhadap zikir seperti inilah Rasulullah Saw. bersabda : “Orang yang bangun pagi hanya dengan Allah di dalam pikirannya, maka Allah akan menjaga di dunia ini maupun di akhirat.” Zikir pada peringkat ini adalah zikirnya orang-orang yang sudah mencapai tingkat istiqamah dan mulazamah dalam zikrullah, dan ini hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang menduduki derajat kematangan dan kesempurnaan iman, dimana hatinya senantiasa belum merasa tenang manakala ia tidak mengingat Allah. Sehingga dalam (keadaan apapun) dan semua garak-geriknya baik lahiriah maupun batiniah hati dan jiwa orang itu akan terus terkuasai sebaik-baiknya. Dimanapun dia berada, hal itu tidak menghalanginya untuk berzikir kepada Allah.

Adapun peringkat yang kedua yaitu zikir golongan kanan (Ashabul Yakin), yakni orang-orang yang saleh. Zikir mereka belum sampai membawa larut kedalam pikiran tentang keagungan-keagungan Allah, melainkan tetap sadar diri. Tentang peringkat dua zikir ini ada satu anekdot dari sufi klasik. Pernah seorang mutasawwif bertanya kepada mursyidnya, seorang guru sufi terkenal, Abu Uthman Al Hiri, “Aku berzikir dengan lidah, tetapi hatiku sulit bersatu dengan zikirku” ia menjawab, “Bersyukurlah, bahwa salah satu anggota badanmu menaati dan dibimbing kejalan yang benar. Barangkali hatimu kelak akan ikut juga, kelak akan mendaki ke tingkat yang lebih tinggi.”

Memang bisa dipahami bahwwa amaliah zikir bagi kelompok khawas, elit rohani yang terbatas jumlahnya, memungkinkan mereka itu hidup berkekalan dalam zikir yang sempurna. Berbeda dengan orang awam, agama tidak memberatinya mereka hanya diajak berzikir sebatas kesanggupannya. Zikir bagi orang awam dapat dilakukan dimana saja, pada saat apa saja, tanpa dibatasi pada waktu-waktu shalat atau pada tempat suci tertentu saja. Yang penting, zikir dapat diupayakan terus menerus, pagi, siang, sore, malam, duduk, berdiri. Namun perlu disadari oleh siapapun bahwa suatu zikir baru bisa efektif bia hati orang yang berzikir benar-benar menghayati kalimat-kalimat yang keluar dari lisannya. Sayangnya, yang banyak dijumpai adalah lisan berzikir tapi hatinya lalai, zikir cukup di lisan saja tanpa disertai oleh hatinya. Sehingga tidak sedikit orang mengamalkan zikir bertahun-tahun tapi tidak membekas didirinya. Meskipun itu jauh lebih baik dari pada orang yang tidak melakukan zikir. Sebab orang yang tidak melakukan zikir termasuk golongan ghafilun, orang-orang yang lalai.

Dalam Quran Al ‘Ankabut ayat 45 menerangkan :

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Rasulullah Saw. bersabda : “Hendaknya lisanmu selalu basah karena berzikir kepada Allah Ta’ala.” Jadi, alangkah baiknya seorang mukmin mau melatih lisan dan hatinya untuk selalu mengingat Allah, meski di tengah kesibukan duniawi tetapi tetap perhatiannya selalu terpusat pada zikrullah.

Lambat laun, bila hati seorang hamba Allah sudah diliputi keinginan untuk mencapai kemuliaan yang hakiki, maka zikir kepada Allah akan senantiasa tumbuh dan lestari dalam hati itu. Amaliah zikirnya yang penuh konsentrasi dan kekhusyu’an sehingga benar-benar meresap ke dalam hati, akan senantiasa menuntun jiwa orang itu kepada rasa cinta yang tinggi kepada Allah Swt. Dan bila perasaan cinta (mahabbah) itu telah mengendap di dasar lubuk hati seorang abid, dan menghujan kuat dalam benaknya maka jiwa orang itu akan selalu berbunga-bunga karena kedekatannya dengan Allah yang telah menjadi kecintaannya. Dan siapa saja yang telah menemukan sinar mahabbah, tentu akan nampak tanda-tandanya, yaitu hati orang itu akan selalu rindu dan semakin senang berzikir kepada-Nya.

Allah telah menyuruh orang-orang yang beriman untuk selalu berzikir, mendekatkan diri kepada-Nya denga rasa cinta, kepasrahan dan penuh kedamaiaan, sebagaimana dalam firman-nya, “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang” (QS Al Ahzab: 41-42)

Dan juga disebutkan bahwa semua makhluk bertasbih kepada Allah, dan mereka melakukan zikir dengan cara tertentu. (QS. Al Ankabut:63) Kemudia ditegaskan pula bahwa apa pun yang dibisikan oleh hati seseorang Allah mengetahuinya, dan Dia selalu lebih dekat kepada manusia dari pada urat nadi sendiri. (QS. Qaaf:16) Tentu saja, kedekatan ini bukan berarti dekat jarak, karena sama sekali Allah tidak dibatasi oleh suatu jarak dan waktu.

Zikir meskipun bukan hukum fardhu, namun sangat dianjurkan dalam islam. Disebabkan keutamaan yang terkandung di dalam zikir sangatlah besar, terutama untuk menngkatkan kedekatan dan kecintaan kepada Allah Swt. Apalagi ketika dunia modern dewasa ini sudah menjadi terlalu rasional dan cenderung materialis, sehingga manusia merasakan penat dan ingin kembali ke hal-hal yang religius untuk mereguk rasa keagamaan yang hakiki. Dan itu bisa ditemukan oleh orang-orang yang hati mereka tenggelam dalam kekhusyu’an zikrullah. Sebagaimana yang telah dijanjikan Allah, “ Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram.”(QS. Ar Ra’ad:28)

Manusia akan menemuan tingkat kedekatan dengan Allah selagi ia terus menerus berada dalam zikir, dan terus-menerus menghindari dari segala sesuatu yang bisa melupakan Allah. Karena zikir dapat menjadi penghubung antara hamba dengan Tuhan, dan merupakan kunci pembuka tabir yang menutupi hubungan hamba dengan Tuhan. Tabir yang disebabkan kekotoran hati manusia dapat di sucikan dengan alat penyuci zikrullah, sehingga terbukalah tabir hijab, dan hati menjadi dekat dengan Tuhan .

Rasulullah Saw. bersabda : “Bahwasannya bagi tiap-tiap sesuatu itu ada alat untuk menyucikan, dan alat untuk menyucikan itu ialah zikrullah.”

Dalam hadis lain disebutkan : “Janganlah kamu memperbanyak pembicaraan tanpa ngat kepada Allah Swt. Sesungguhnya banyak pembicaraan tanpa mengingat Allah akan menimbulkan kesesatan hati, dan sesungguhnya sejauh-jauh manusia dari Allah adalah hati yang sesat.”

Zikir merupakan tiang yang kuat di jalan menuju Allah, juga sebagai langkah utama di jalan menuju cinta kepada-Nya. Sebab, orang tak dapat mencapai rasa cinta, tanpa mengingat-Nya terus menerus. Orang yang beriman dan cinta kepada Allah hatinya selalu dihiasi dengan zikrullah, karena zikir alah telah dijadikan santapan bagi jiwa mereka

Wasiat Al-Ghazali

Ketika Imam Ghazali pergi ke Rahmatullah pada hari Senin, 14 Jumada al-Tsani 505 H, tepatnya 18 Desember 1111M, dalam usia ke 53. Dan Ahmad saudara Al Ghazali menghubungkan fajar dari hari meninggalnya Al Ghazali. Ia berwudh dan berkata : “Bawakan kain kafanku!” kemudian ia mengambilnya dan menciumnya serta meletakkan di depannya kemudia Al Ghazali berkata : “Dengan senang hati saya memasuki Kehadirat Kerajaan.” kemudian ia memasuki tempat yang siapapun tidak boleh memasukinya. Saat mereka masuk, didapati Al Ghazali sedang menghadap kiblat dan sudah memakai kain kafannya, serta di atas kafannya terdapat selembar kertas yang berisi syair-syair. Menurut Margareth Smith M.A,Ph.D penulis biografi Al Ghazali dalam bukunya. Dan salah satu syair itu yakni :
Katakanlah kepada teman-temanku, saat mereka melihatku mati.
Mencucurkan air mata padaku, berduka cita atas dalam duka.
Jangan percaya, mayat yang kau lihat adalah aku.
Dengan Nama Allah, kukatakan kepadamu, mayat itu bukan aku.
Aku adalah Ruh, badan ini tidak ada apa-apanya, cuma daging.
Jasad itu, tempat tinggal pakaian sementaraku.
Aku adalah pusaka, dan badan ini hanya kulit penjaga.
Dihiasi debu, melayaniku sebagai tempat keramat.
Akulah mutiara, yang ditinggalkan kulit di padang pasir.
Akulah narapidana, yang menghabiskan waktu dalam duka.
Akulah burung, dan jasad ini adalah sangkarku.
Tatkala aku bebas terbang, ada bekas ku tinggalkan.
Segala puji bagi Tuhan, yang telah melepaskanku, bebas.
Ia persiapkan tampatku, di surga tertinggi.
Hari ini aku mati, setelah aku hidup di tengah-tengahmu.
Kini aku hidup dalam kebenaran, dengan kafan yang terbuang.
Hari ini aku dapat berbicara dengan orang suci di atas sana.
Sekarang tanpa penghalang aku berhadapan melihat Tuhan.
Aku melihat lembaran, dan disitu ku baca isinya.
Semuanyan ada padanya, yang hilang, sedang dan akan terjadi.
Biarkan rumahku hancur, letakkan sangkarku di atas tanah.
Lemparkanlah jasad, sebagai bukti, tidak lebih dari pada itu.
Lepaskan jubahku, karena itu hanyalah pekaian luarku.
Tempatkan semuanya di kuburan, biarkan, agar terlupakan.
Aku telah melalui jalanku, kau akan menyusul kemudian.
Tempat tinggalmu bukan tempat tinggalku.
Jangan kau kira, mati adalah mati, bukan, tetap hidup.
Hidup yang melampaui semua yang di impikan disini.
Selagi di dunia, kita hanya bisa tidur
Mati, lebih dari sekedar tidur, ialah tidur yang dipanjangkan.
Jangan takut saat mati menghampiri mendekatimu.
Mati hanyalah suatu awal menuju rumah yang di berkati.
Pujilah kelembutan-Nya dan datanglah jangan takut.
Apa yang ku alami, akan kau alami.
Sepengetahuanku, engkau juga seperti aku.
Seluruh jiwa manusia berasal dari Tuhan.
Raga mereka semuanya tersusun serupa.
Baik dan buruk, bergembiralah sekarang.
Semoga kedamaian Tuhan dan kesenangan abadi menyertaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar