Sabtu, 12 Januari 2013

Pernikahan Yang Gagal


PERNIKAHAN YANG GAGAL
Ketika Raden Inu Kertapati tiba di Daha, Raja Daha menyambutnya dengan sangat meriah. Dewi Liku, selir baginda pun ikut menyambut dengan didampingi puteri-nya, Dewi Ajeng.
Raden Inu Kertapati sangat heran, tidak melihat kekasihnya ikut menyambut. Ketika ditanyakan, tidak mendapat jawaban yang jelas. Hanya dikatakan, bahwa Dewi Candra Kirana telah tak ada di istana. Telah lama pergi entah kemana. Tentu saja Raden Inu Kertapati menjadi bingung dan sedih.
Melihat Raden Inu Kertapati bersedih, Dewi Ajeng mencoba menghiburnya. Tetapi tidak berhasil. Hati Raden Inu Kertapati tetap tawar. Bahkan jadi merasa muak kepada Dewi Ajeng. Sebab sangat keterlaluan dalam menghiburnya itu, disertai ucapan-ucapan yang menjelek-jelekkan Dewi Candra Kirana.
“Dinda Dewi Ajeng, dimanakah Dewi Candra Kirana?” tanya Raden Inu Kertapati ketika semakin muak menerima pendekatan Dewi Ajeng yang dirasanya semakin keterlaluan.
“Kanda Dewi Candra Kirana telah minggat dari istana, entah karena apa. Tetapi perlu kanda ketahui, akhir-akhir ini dia sangat aneh. Seperti orang yang telah hilang ingatan,” jawab Dewi Ajeng.
“Dinda! Bicaralah yang benar!"
“Dinda bicara sebenar-benarnya, kanda!” Dewi Ajeng kemudian memperlihatkan dua buah boneka. “Kanda lihat boneka-boneka ini?”
Hati Raden Inu Kertapati menjadi tercengang. Boneka-boneka itu terbuat dari emas dan perak, yang dikirim olehnya khusus untuk Dewi Candra Kirana. Tetapi mengapa sekarang ada di tangan Dewi Ajeng?
“Kedua boneka ini saya temui di pembuangan sampah, di dekat kamar kanda Dewi,” kata Dewi Ajeng.
“Oh?” gumam Raden Inu Kertapati. Lalu tubuhnya menjadi lemas. Tak kuat berdiri lagi. Akhirnya jatuh terduduk.
“Kanda Raden Inu?”
Raden Inu Kertapati tidak menyahut. Pandangannya kosong. Ia terdiam bagai patung. Bagaikan hilang ingatan. Mungkin karena terlalu sedih. Mengingat sikap Dewi Candra Kirana yang telah membuang boneka-boneka itu. Betapa tidak? Kedua boneka itu bukan hanya sebagai cindera mata, tapi sangat lebih dari itu. Sebagai tanda cinta dan kasih sayang. Maka, kalau kedua boneka itu telah dibuang, berarti Dewi Candra Kirana sudah tidak cinta lagi. Mungkin karena sudah tidak cinta lagi itulah, maka kemudian pergi meninggalkan istana.
Seisi istana, bahkan seisi negeri Daha menjadi geger. Raja Daha dan Dewi Liku merasa cemas, melihat keadaan Raden Inu Kertapati. Namun pada saat itulah, Dewi Liku mengajukan usul.
“Kurasa Raden Inu akan kembali seperti sediakala seandainya dinikahkan dengan Dewi Ajeng,” kata Dewi Liku.
‘Tapi. . .,” kata Raja Daha, tanpa bisa meneruskan kata-katanya.
“Kita laksanakan sajalah, kanda. Bukankah anakku Dewi Ajeng tidak kalah cantik dibandingkan dengan Dewi Candra Kirana? Lagi pula kurasa Dewi Ajeng tidak keberatan.”
“Tapi Raden Inu Kertapati telah dijodohkan dengan Dewi Candra Kirana?”
“Dijodohkan dengan orang yang telah tiada, apa artinya? Ah, kanda lebih baik segera mengirim berita kepada Baginda Raja Kuripan. Katakan bahwa Dewi Candra Kirana telah tiada, dan sebagai gantinya telah ditentukan. Yaitu Dewi Ajeng. Ayolah kanda, turutilah kata-kata dinda!”
Dewi Liku yang meskipun hanya seorang selir, tetapi seperti mempunyai kekuatan gaib. Yang dapat menguasai jiwa Raja Daha. Sehingga Raja Daha menjadi sangat penurut, mau melaksanakan apa saja yang dikehendaki oleh Dewi Liku. Kemudian Raja Daha mengirim berita kepada Raja Kuripan, sesuai dengan desakan Dewi Liku.
Raja Kuripan, ayahanda Raden Inu Kertapati sangat terkejut menerima berita itu. Namun ia tidak keberatan, seandainya dasar berita itu atas kehendak Raden Inu Kertapati.
Maka dikumandangkanlah berita gembira, ke segenap pelosok kerajaan Daha. Berita tentang akan dilangsungkannya pernikahan Dewi Ajeng dengan Raden Inu Kertapati.
Semua orang yang mendengar berita itu menjadi kaget. Tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Lagi pula dapat dimaklumi, mengingat Dewi Candra yang telah tak ada di istana. Namun orang-orang yang dekat dengan Raden Inu Kertapati merasa bingung. Sebab keputusan pernikahan dengan Dewi Ajeng itu, ternyata diluar persetujuan Raden Inu Kertapati. Mengingat keadaan Raden Inu Kertapati yang mendadak menjadi bagai patung, jangankan menyetujui pernikahannya dengan Dewi Ajeng, bicara pun ia tidak bisa.
Dewi Ajeng nampak berbahagia sekali. Sangat tidak sabar menanti tibanya hari peresmiannya menjadi isteri Raden Inu Kertapati itu. Ia telah berkhayal, harkatnya sebagai puteri seorang selir tentunya akan berubah, menjadi isteri seorang pangeran dari kerajaan yang besar.
Raja Daha telah memerintahkan semua abdi, menyiapkan segala sesuatunya untuk menikahkan Dewi Ajeng dengan Raden Inu Kertapati itu. Gapura-gapura dihias seindah mungkin. Panggung-panggung kesenian telah dibangun. Bahan-bahan makanan yang beraneka macam sudah disediakan. Sepanjang jalan dan bangunan istana, dihiasi bunga-bungaan. Bangunan-bangunan di sekitar istana pun telah diperbaharui warnanya, dilengkapi dengan hiasan yang meriah. Undangan pun telah disebarkan.
Beberapa malam lagi pernikahan Raden Inu Kertapati dan Dewi Ajeng, akan dilaksanakan. Kesibukan di dalam istana tampak semakin memuncak. Tetapi terjadilah sesuatu yang diluar dugaan, kebakaran! Entah dari mana asalnya api, namun dengan cepat menghanguskan persiapan pernikahan itu. Api berkobar-kobar, melahap bangunan-bangunan. Memusnahkan perbekalan pesta perkawinan.
Api menyala dengan bergulung-gulung dan menyambar-nyambar. Istana Daha menjadi heboh dan sibuk menanggulangi api. Dengan segala upaya, para abdi raja berusaha memadamkan api. Untunglah, akhirnya api dapat dipadamkan. Namun meskipun tak jatuh korban jiwa, korban harta benda tidaklah sedikit. Terutama benda-benda yang tadinya disiapkan untuk sarana pesta pernikahan, habis tanpa ampun. Bahan sandang dan pangan yang kesemuanya pilihan, musnah menjadi abu.
Pada saat api sedang mengamuk, rombongan Raden Inu Kertapati bergerak meninggalkan istana. Mereka membawa Raden Inu Kertapati yang seperti sedang hilang ingatan itu. Dan berhasil sampai keluar dari istana. Lalu langsung menuju ke Kuripan kembali.
Di tengah perjalanan. Raden Inu Kertapati tersadar kembali. Ingatannya utuh kembali dengan mendadak. Dan ketika para abdinya menerangkan apa yang telah terjadi, Raden Inu Kertapati nampak masygul sekali.
“Rupanya di istana Daha telah terjadi suatu kejanggalan. Hal itulah yang membuat Dewi Candra Kirana pergi, meninggalkan istana. Oh, aku nyaris pula menjadi suami Dewi Ajeng,” kata Raden Inu Kertapati. "Tapi dari mana asalnya api?”
“Kebakaran yang mengerikan itu bukan karena kecelakaan. Tapi memang karena disengaja, sebagai perbuatan seseorang yang rupanya ingin menggagalkan pernikahan Raden dengan Dewi Ajeng,” kata seorang abdi Raden Inu Kertapati.
“Oh, kalau begitu aku berhutang budi padanya. Aku harus berterimakasih kepadanya. Hm, kalau saja dia tidak melakukan pembakaran, sekarang ini aku telah nikah dengan Dewi Ajeng. Tapi, siapakah yang menjadi penyebab kebakaran itu?”
“Panji Semirang dan pengikutnya. Mereka saya lihat mendatangi istana dengan diam-diam, lalu menyalakan api.”
“Panji Semirang? Benarkah?”
“Benar, Raden.”
“Kalau begitu, mari kita temui dia!”
Raden Inu Kertapati dan rombongannya berangkat ke Asmarantaka. Untuk menemui Panji Semirang. Guna menghaturkan rasa terima kasihnya. Tetapi betapa kecewanya Raden Inu Kertapati ketika tiba di Asmarantaka. Panji Semirang dan kelompoknya telah tiada. Hanya tinggal bangunan-bangunan yang telah kosong. Jelas terlihat, tempat itu telah ditinggalkan dengan sangat tergesa-gesa.
Raden Inu Kertapati berusaha mencari jejak Panji Semirang dan kelompoknya. Seluruh anggota rombongan yang terdiri dari para abdi setia, dikerahkan mencari jejak. Tetapi nihil.
Tiba-tiba Raden Inu Kertapati teringat pada wajah Dewi Candra Kirana. Teringat pula dengan jelas wajah Panji Semirang. Bentuk badannya dan segala gerak-geriknya, kedua orang itu sama. Wajah Panji Semirang dan Dewi Candra Kirana sama betul. Meskipun mahkota dan pakaian yang dikenakannya berbeda, tetapi wajahnya sama.
Kurasa Panji Semirang itu adalah Dewi Candra Kirana yang menyamar, pikir Raden Inu Kertapati. Dan kedua punggawa yang bernama Kuda Peranca dan Kuda Perwira itu, tidak salah, tentulah Ken Bayan dan Ken Sangit, Dua abdi Dewi Candra Kirana yang amat setia.
Tapi benarkah?
“Kita tak usah kembali ke Kuripan. Kita cari Panji Semirang sampai bertemu! Dan kita tidak akan kembali ke Kuripan, sebelum berhasil menemui Panji Semirang itu!” kata Raden Inu Kertapati kepada rombongannya.
Semua anggota rombongan yang terdiri dari para abdi setia itu, tak seorang pun berani memungkiri niat Raden Inu Kertapati. Selain karena memang patuh, juga karena ingin tahu pasti, benarkah Panji Semirang itu Dewi Candra Kirana?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar