Senin, 14 Januari 2013

Jaka Asmara


JAKA ASMARA
RAKYAT kerajaan Gagelang bersorak kegirangan, mendengar berita musnahnya gerombolan pengacau itu. Sri Baginda merasa lega dan lapang. Sebab beban yang selama ini menekan pundaknya, kini telah terlepas. Keamanan yang selama ini tercemarkan oleh tindakan gerombolan itu, kini benar-benar tenteram.
Sebagai rasa terimakasih, Sri Baginda lalu mengadakan upacara syukuran. Raden Inu Kertapati yang dianggap sebagai pahlawan, diharuskan ikut melaksanakan dan menikmati acara syukuran itu.
Upacara syukuran diwujudkan dalam dua acara. Pertama dengan melaksanakan doa bersama di puri peribadatan. Kedua dengan melangsungkan pesta selama tujuh hari tujuh malam, dengan dihangatkan oleh berbagai kesenian. Tercatat dalam susunan acara, pada pesta malam terakhir akan didatangkan dalang akhli pantun kenamaan, Jaka Asmara.
Setelah upacara berdoa bersama selesai, pesta pun dimulai. Malam pertama sampai keenam, berbagai kesenian dipentaskan dengan meriah. Segenap warga kerajaan menikmati kesenian-kesenian itu dengan gembira. Raden Inu Kertapati pun menikmati semua acara, bersama para perajuritnya. Tetapi kelihatannya Raden Inu Kertapati seperti kurang terhibur. Semua kesenian yang dipentaskan, baginya terasa tawar. Betapa tidak, sebab pikirannya sedang kalut memikirkan Dewi Candra Kirana. Selama menikmati hiburan dalam pesta itu, hatinya merintih menahan rindu.
Dewi Candra Kirana, dimanakah engkau? Tidakkah engkau tahu, aku sangat merindukanmu? tanya Raden Inu Kertapati di dalam hatinya.  Pada malam ketujuh, dalang akhli pantun memperagakan kebolehannya sebagai juru cerita yang mahir. Ia membawakan cerita yang berjudul “Cinta Yang Penuh Derita”. Semua penonton yang terdiri dari berbagai lapisan, menyimak cerita ki Dalang dengan terpesona. Memang, Jaka Asmara rupanya bukan dalang pantun sembarangan. Selain suaranya sangat enak didengar, juga bahasanya amat menarik. Raden Inu Kertapati pun seperti hanyut oleh cerita ki Dalang, menyimaknya dengan hati yang berdebar-debar.
Jaka Asmara memang ahli pantun yang tak ada duanya. Kisah “Cinta Yang Penuh Derita”, yang dibawakannya benar-benar kisah pilu yang sangat menawan. Dalam kisah itu, diceritakan tentang seorang puteri dari sebuah kerajaan yang menderita karena tindakan-tindakan selir ayahandanya. Puteri itu bernama Dewi Rembulan.
Konon Dewi Rembulan ingin mempunyai adik. Tetapi keinginannya itu tak mungkin terkabulkan, mengingat ibundanya yang telah uzur. Sri Baginda lalu mengambil seorang selir, Dewi Matahari. Dari selir itulah, Dewi Rembulan mendapat adik. Sangat cantik, bernama Dewi Siang. Mulanya Dewi Rembulan sangat berbahagia. Tetapi kemudian sangat menderita. Karena Dewi Matahari sangat kejam dan berhati dengki. Apalagi ketika Dewi Rembulan dipertunangkan dengan Raden Perkasa, sikap Dewi Matahari kepada Dewi Rembulan sangatlah kasar. Kepada Permaisuri pun, Dewi Matahari bersikap memusuhi tanpa alasan yang jelas. Tapi orang-orang tahu, Dewi Matahari ingin mempunyai kedudukan sama dengan Permaisuri. Untuk itu ia pun berhasil mempengaruhi Sri Baginda, sehingga apa yang dikehendakinya selalu dilaksanakan. Melihat dan menerima sikap Dewi Matahari itu, Permaisuri jatuh sakit dan kemudian meninggal. Betapa hancurnya hati Dewi Rembulan, sepeninggal ibundanya itu, dunia seolah-olah telah kiamat.
Ketika Dewi Rembulan dipertunangkan dengan Raden Perkasa, putera raja negeri tetangga, Dewi Matahari merasa iri dan sakit hati. Sebenarnya ia berharap, Raden Perkasa akan memilih Dewi Siang sebagai calon isterinya. Maka dari itu ia selalu berusaha menggagalkan pertunangan Dewi Rembulan dan Raden Perkasa itu. Umpamanya saja, setiap kiriman dari Raden Perkasa buat Dewi Rembulan, selalu diberikan kepada Dewi Siang. Terakhir kali Raden Perkasa mengirimkan dua buah boneka, masing-masing terbuat dari emas dan perak. Dewi Rembulan sangat berbahagia menerimanya, siang-malam kedua boneka itu ditimang-timangnya.
Melihat kedua boneka itu, Dewi Siang ingin memilikinya. Lalu memintanya. Dewi Rembulan terpaksa memberikannya yang terbuat dari perak. Tetapi Dewi Siang justeru ingin dua-duanya. Tentu saja Dewi Rembulan tidak sudi memberikannya. Sebenarnya jangankan dua-duanya, memberikan yang sebuah pun hatinya sangat berat. Mengingat boneka-boneka itu pemberian kekasihnya yang sangat dicintainya.
Dewi Siang menangis. Lalu mengadu kepada ibundanya, Dewi Matahari. Dan Dewi Matahari mengadukannya pada Sri Baginda. Dikatakannya, bahwa Dewi Rembulan bersikap kasar dalam menolak keinginan Dewi Siang itu. Disertai dengan caci-maki dan umpatan kotor, yang tak patut diucapkan oleh seorang puteri. Sungguh pandai Dewi Matahari dalam mengatur kata-kata, sehingga Sri Baginda yang memang sangat penurut kepadanya itu, menjadi murka. Lalu didatanginya Dewi Rembulan, kemudian meminta boneka-bonekanya. Dengan hati yang hancur, Dewi Rembulan berusaha menyadarkan ayahandanya. Diterangkan bahwa boneka-boneka itu sangat besar artinya baginya, mengingat si pemberinya adalah calon suaminya. Tapi Sri Baginda menjadi sangat murka, lalu mengambil gunting dan memotong rambut Dewi Rembulan.
Rambut adalah mahkota wanita yang paling luhur. Bisa dibayangkan, betapa sedihnya Dewi Rembulan setelah rambutnya dipotong itu. Selain itu, kedua bonekanya pun dirampas. Diberikan kepada Dewi Siang. Lama sekali Dewi Rembulan menangis, meratapi nasibnya yang malang itu. Lalu timbullah niat ingin meninggalkan istana.
Pada suatu malam, Dewi Rembulan dan abdi-abdi setianya meninggalkan istana. Mereka menuju rimba yang terletak di antara kerajaannya dengan kerajaan kekasihnya. Di sana ia menyamar sebagai satria, dengan gelar sebagai Panji Kelana. Bersama para abdinya yang juga menyamar sebagai kaum pria, kemudian beraksi menghadang orang-orang yang berlalu lalang ke rimba itu. Diajaknya untuk bermukim, membangun pemukiman baru ....
Begitulah dalang Jaka Asmara membawakan pantunnya. Sangat menarik. Membuat setiap orang yang mendengarnya, terpesona dan terpaut ingin menyimak sampai cerita itu selesai. Lain halnya dengan Raden Inu Kertapati, cerita yang dibawakan dalang Jaka Asmara itu seolah-olah cerita tentang kekasihnya dan dirinya. Sangat persis. Apalagi ketika disebut-sebutnya dua buah boneka dan penyamaran sang puteri sebagai Panji Kelana. Raden Inu Kertapati yakin, cerita itu bukan cerita karangan ki Dalang semata. Tetapi cerita yang sebenarnya. Cerita tentang diri Dewi Candra Kirana.
Raden Inu Kertapati bangkit dari duduknya. Dengan diam-diam mencari tempat yang baik untuk melihat diri ki Dalang. Hatinya mendadak tercengang. Kaget dan terguncang. Diri ki Dalang sangat mirip dengan Panji Semirang. Juga sangat mirip dengan Dewi Candra Kirana. Tidak salah, dialah yang sedang kucari! kata Raden Inu Kertapati di dalam hatinya.
Dewi Candra Kirana telah menyamar sebagai Panji Semirang, kemudian sebagai dalang Jaka Asmara. Dan cerita yang dibawakannya, adalah cerita dirinya! Oh, betapa pahitnya apa yang dialami oleh Dewi Candra Kirana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar