Minggu, 08 April 2012

KRATON JAWA - Pendahuluan


KRATON JAWA - Pendahuluan
S
elama ini kraton memiliki fungsi yang strategis dan penting dalam pembangunan karakter bangsa dan juga menjaga jati diri budaya luhur bangsa kita. Kota Yogyakarta dan Solo yang bersejarah di Jawa Tengah, merupakan dua kota yang sangat penting peranannya dalam perkembangan kebudayaan Indonesia. Dua Kraton utama, Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat ditambah dua keraton lainnya, Puro Mangkunegaran dan Puro Pakualaman, merupakan contoh terbaik dari peninggalan sejarah bangsa, yang kita banggakan untuk dapat menjaga kelestarian budaya bangsa yang adiluhur tersebut.


Keempat kraton tersebut menampilkan kehidupan budaya Jawa, yang juga mengetengahkan sejarah dan tradisi budaya yang masih tetap terpelihara. Isi dari blog ini, hanyalah copy-paste dari buku Kratons of Java yang didanai oleh The American Express Foundation.



Kerajaan Mataram

Pada abad ke-16, sebelum Belanda menjajah Hindia Belanda, Nasantara terdiri atcis beberapa kerajaan yang saling bersaing yang pada waktu tidak bersamaan menguasai Pulau Jawa. Kerajaan Jawa yang besar dan terahkir, dikenal dengan nama Mataram II, didirikan pada tahw 1587 oleh Pangeran Senopati. Pada puncak kejayaannya, pengaruh kerajaan ini tidak saja tersebar ke luar Jawa, tetapi sampai ke daerah yang sekarang bernama Malaysia.
kompleks masjid dan makam
kerajaan Mataram Islam di Kotagede
Pada zaman pemerintahan Raja Amangkurat II, Kerajaan Mataram, yang pada mulanya terletak di Kota Gede, di pinggiran yang sekarang bernama kota Yogyakarta, berpindah tempat beberapa kali antara tahun 1587 dan 1680. Raja Amangkurat II inilah yang mendirikan kraton di Kartasura, dekat kota yang sekarang bernama Surakarta (Solo). Pada zaman pe­merintahan raja ini hubungan antara kraton dan pemerintahan kolonial Belanda memburuk. Ketika Amang­kurat III menggantikan ayahnya, Belanda membantu pangeran saingannya untuk dijadikan raja baru yang bergelar Sunan Pakubuwono I.

Candi Trowulan, Peninggalan Kerajaan Mataram 

Penobatan Pakubuwono I, yang disusul oleh serangkaian perang perebutan kekuasaan akhirnya berkat bantuan Belanda berlanjut dengan dinobatkannya cucu Pakubuwono I menjadi Pakubuwono II. Daerah Pakubuwono II di Kartasura kemudian diserang oleh saingannya raja dari Pulau Madura, sebuah pulau yang terletak disebelah pantai timur Laut Jawa. Sebagai balasan atas bantuan yang diberikan oleh Belanda dalam menahan serangan ini, Pakubuwono II dipaksa memberikan bagian penting dari wilayah kekuasaannya kepada pemerintah kolonial Belanda. Akibatnya, pada tahun 1745, Pakubuwono II pindah dan membangun istana baru di Surakarta, yang bernama Surakarta Hadiningrat, kraton utama di di Solo.

Perpecahan di Kerajaan Mataram
Perebutan kekuasaan di dinasti Mataram terjadi lagi, kali ini, antara Pakubuwono II dan saudara tirinya, Pangeran Mangkubumi. Ketika Paku­buwono II digantikan oleh putranya, Pakubuwono III, Mangkubumi juga mengangkat dirinya sebagai raja dan mendirikan pemerintahan tandingan di Yogyakarta. Karena kekuasaan Pangeran Mangkubumi bertambah besar, Belanda turun tangan menengahi pertikaian itu dengan jalan mengadakan Perjanjian Gijanti. Isinya, Kerqjaan Mataram dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Kesunanan Surakarta dibawah pimpinan Pakubuwono III dan Kesultanan Yogyakarta dibawah Mangkubumi yang bergelar Hamengkubuwono I. Perjanjian Gijanti ditandatangani oleh kedua raja ini pada tahun 1755 dan pada tahun yang sama konstruksi kraton utama Yogyakarta, Ngayogyakarta Hadiningrat, dibangun oleh Hamengkubuwono I.
Pemberontakan kesunanan di Sura­karta masih belum berakhir. Raden Mas Said, seorang pangeran lainnya yang merasa tidak puas, memisahkan diri dari kraton dan atas restu Sunan mendirikan kerajaan yang merdeka di Surakarta. Dengan gelar Mangkunegoro I, Raden Mas Said menjadi pemimpin kerajaan kedua di Surakarta dan pada tahun 1757 ia membangun istananya sendiri bemama Puro Mangkunegaran.
Perpecahan terakhir pada kerajaan Mataram terjadi dalam tahun 1818, yaitu pada masa pemerintahan Inggris di Hindia Belanda, yang hanya berlangsung selama empat tahun. Seperti apa yang telah dilakukan Belanda, Gubemur Inggris Thomas Stamford Raffles memanfaatkan pertikaian politik lainnya, yang kali ini terjadi di Kraton Yogyakarta, dengan cara mendukung berdirinya kerajaan lain yang merdeka di dalam kerajaan Yogyakarta. Pangeran Natakusuma, paman Hamengkubuwono III yang berkuasa, pada waktu itu, dinyatakan sebagai kepala pemerintah­an baru, yang berpusat di istana yang dibangun poda tahun 1818, yang letaknya hanya beberapa kilometer dari Kraton Yogyakarta. Pangeran Nata­kusuma memakai gelar Paku Alam I dan kratonnya dinamakan Puro Pakualaman.

Pusat alam semesta
Masyarakat Jawa percaya bahwa kekuasaan para pemimpin dinasti Jawa merupakan anugerah dari Tuhan. Raja dianggap sebagai pemimpin spiritual, politik dan sosial di kalangan masyarakat Jawa, sedangkan kraton sebagai pusat simbolik dan fisik alam semesta. Kehidupan setiap orang Jawa, dari kalangan petani sampai kalangan bangsawan aristokrat, diatur dan diawasi oleh hak istimewa raja. Sejak didirikannya istana Yogyakarta dan Surakarta, masyarakat Jawa secara keseluruhan dianggap sebagai perluasan lingkungan kraton.
Gaya arsitektur dan tata letak keempat kraton ini didasari oleh prinsip yang berakar pada kosmologi Hindu-Jawa. Gunung yang keramat dan pusat alam semesta dilambangkan dengan Pendopo (balai pertemuan) dan Taman Dalem. Rangkaian Bangunan dan halaman yang terpencar dari pusat melambangkan daratan dan lautan. Berbagai bangunan dipisahkan oleh dinding yang tinggi dan pintu gerbang simbolis yang bukan saja menjadi lambang perbedaan tingkat dalam sistem kosmologi, tetapi juga berfungsi sebagai penjaga yang memiliki kekuatan fisik dan batin. Pintu gerbang utara yang berada di dua kraton utama menghadap ke gunung tempat tinggal para dewa, sedangkan pintu gerbang selatan menghadap ke laut, kediaman mistik nenek moyang.

Ratu Pantai Selatan – Kanjeng Ratu Kidul, Nyi Roro Kidul 
Dewi Laut Selatan, Nyai Loro Kidul, yang menurut legenda berdiam di sebuah kerajaan di dasar Samudera Hindia, telah lama menjalin hubungan yang erat dengan kerajaan Jawa. Kedudukan se­bagai raja secara tradisional dianugerahkan oleh Nyai Loro Kidul, sedangkan izin dan restunya menjadi prasyarat untuk membangun sebuah kraton.
Keempat kraton tersebut mempunyai bentuk ciri arsitektur yang sama seperti yang tampak pada Pendopo, Dalem, Keputren, Kesantrian, yang semuanya menjadi Dalem kraton. Di sekeliling Taman Dalem dibangun kantor, kandang kuda, tempat tinggal para abdi dalem, bengkel kerja, dan pemukiman para bangsawan yang kurang terkenal berserta keluarga mereka. Seluruh komplek ini dikelilingi oleh dinding tembok yang kokoh bagaikan benteng yang melindungi kedua kraton utama, yang jika dilihat dari dalam seperti "kota tertutup".

Pelindung Kesenian dan Kebudayaan
Pada saat Indonesia merdeka pada tahun 1945, kesultanan Jawa menyerahkan kekuasaan politiknya kepada pemerintah republik di Jakarta. Tanggung jawab dan beban mempertahankan keamanan dilepaskan, agar dapat lebih memusatkan perhatian kepada kekayaan dan kehidupan di dalam kraton, yaitu berupa masyarakat dan benda-benda kraton yang ditata secara estetis guna pengembangan seni dan upacara kerajaan. Para seniman dan pengrajin yang secara tradisional mendapat pengayoman dari kraton diberi kedudukan yang lebih terhormat, sedangkan seni wayang, tari, musik, sastra dan kerajinan tangan tradisional diperhalus dan diperindah. Dalam batas tembok masing-masing masyarakat keempat kraton ini mengembangkan ciri khas tersendiri, misalnya yang terlihat pada perbedaan busana, gaya pertunjukan, benda seni artifisial, upacara-upacara kerajaan yang terperinci.

Masa Kini
Walaupun kekuasaan dalam bidang politik berkurang, pengaruh kraton dalam tradisi dan budaya tetap kuat dan berlangsung sampai sekarang. Pulau Jawa adalah pulau yang terpadat penduduknya di Indonesia dan kebudayaan historis merupakan kebudayaan yang paling berpengaruh terhadap masyarakat Indonesia. Sampai sekarang pun   dalam   lubuk   sanubari masyarakat Indonesia tradisi kraton tetap dihormati. Warga yang sekarang tinggal  di  keempat  kraton  itu merupakan turunan langsung dari Pangeran Senopati, pendiri dinasti Mataram. Di alam lingkungan tembok kraton ketaatan ritual dan upacara kerajaan tetap dilaksanakan untuk menghormati kebiasaan dan tata cara tradisi Jawa yang terus hidup berabad-abad lamanya.


Bersambung ke : Keraton Jawa 1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar